Praktisi Kampus Andalan

Faktor Manusia dalam Sistem Transportasi Pintar

Faktor Manusia dalam Sistem Transportasi Pintar: Merancang Mobilitas yang Aman, Cerdas, dan Berpusat pada Manusia

Perkembangan transportasi modern semakin dipengaruhi oleh teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), kendaraan terhubung, sistem bantuan pengemudi, kendaraan otonom, dan berbagai sistem informasi perjalanan. Namun, teknologi yang semakin canggih tidak otomatis membuat sistem transportasi menjadi aman dan mudah digunakan. Manusia tetap menjadi bagian penting dalam sistem, baik sebagai pengemudi, penumpang, pejalan kaki, operator pusat kendali, maupun pengguna layanan transportasi. Karena itu, mata kuliah Faktor Manusia dalam Sistem Transportasi Pintar menjadi penting dalam major studi Teknik Industri.

Faktor Manusia dalam Sistem Transportasi Pintar mempelajari bagaimana kemampuan, keterbatasan, perilaku, persepsi, kondisi fisik dan psikologis manusia memengaruhi interaksi dengan sistem transportasi yang semakin terotomatisasi dan terkoneksi. Pendekatan ini menggabungkan human factors, ergonomics, human-machine interaction, transportation safety, cognitive engineering, dan analisis perilaku pengguna untuk menciptakan sistem transportasi yang aman, efektif, nyaman, dan mudah digunakan. Federal Highway Administration menjelaskan bahwa human factors dalam transportasi bertujuan memahami kemampuan manusia dan menggunakannya untuk merancang lingkungan, teknologi, serta sistem yang meningkatkan keselamatan dan kinerja manusia.

Fokus yang Dipelajari

Mata kuliah ini berfokus pada hubungan antara manusia, teknologi, kendaraan, infrastruktur, dan informasi dalam sistem transportasi pintar. Beberapa materi yang dapat dipelajari antara lain:

  • Human factors dan ergonomics untuk memahami kemampuan serta keterbatasan manusia dalam sistem transportasi.
  • Human-machine interaction (HMI) untuk merancang interaksi antara pengguna dengan kendaraan dan sistem transportasi.
  • Cognitive workload untuk menganalisis beban mental yang dialami pengemudi atau operator.
  • Attention dan situation awareness untuk memahami kemampuan manusia dalam mempertahankan perhatian dan memahami kondisi lingkungan.
  • Driver behavior untuk menganalisis perilaku pengemudi dalam berbagai kondisi lalu lintas.
  • Fatigue dan drowsiness untuk memahami pengaruh kelelahan terhadap keselamatan transportasi.
  • Human error untuk mengidentifikasi kesalahan manusia dan faktor yang dapat memicunya.
  • Automation dan human-automation interaction untuk memahami pembagian tugas antara manusia dan sistem otomatis.
  • Trust in automation untuk menganalisis tingkat kepercayaan manusia terhadap sistem transportasi berbasis AI.
  • Usability dan user experience untuk mengevaluasi kemudahan, kenyamanan, dan efektivitas penggunaan teknologi transportasi.
  • Accessibility dan inclusive transportation untuk memastikan teknologi dapat digunakan oleh kelompok pengguna dengan kemampuan yang beragam.
  • Transportation safety dan risk analysis untuk mengidentifikasi serta mengendalikan risiko yang muncul dari interaksi manusia dan teknologi.

Perannya dalam Teknik Industri

Faktor Manusia dalam Sistem Transportasi Pintar memperkuat peran Teknik Industri dalam merancang sistem yang tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga aman, ergonomis, mudah digunakan, dan sesuai dengan kemampuan manusia. Seorang industrial engineer memandang transportasi sebagai sebuah sistem yang terdiri dari manusia, kendaraan, infrastruktur, informasi, teknologi, dan proses operasional yang saling berhubungan.

Sebagai contoh, sistem kendaraan otonom mungkin mampu melakukan berbagai tugas mengemudi secara otomatis. Namun, ketika sistem meminta manusia mengambil alih kendali, pengguna harus mampu memahami kondisi kendaraan, mengetahui apa yang sedang terjadi, dan merespons dalam waktu yang sesuai. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mental model pengemudi dan kemampuan melakukan takeover menjadi isu penting dalam interaksi manusia dengan Automated Driving Systems.

Perspektif tersebut juga dapat diterapkan pada transportation management center. Operator harus berinteraksi dengan berbagai sistem teknologi dan informasi untuk memantau lalu lintas serta mengambil keputusan. Pedoman human factors untuk pusat manajemen transportasi menekankan pentingnya memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan teknologi dan informasi agar sistem dapat bekerja secara aman dan efektif.

Dengan demikian, mata kuliah ini dapat dihubungkan dengan ergonomi, sistem manusia-mesin, simulasi, optimasi, keselamatan kerja, rekayasa sistem, manajemen operasi, data analytics, dan perancangan sistem transportasi.

Kegunaan dalam Masyarakat, Riset, dan Pekerjaan

Konsep faktor manusia dapat diterapkan pada berbagai bentuk transportasi seperti kendaraan pribadi, transportasi umum, kereta api, penerbangan, pelabuhan, logistik, kendaraan otonom, intelligent traffic management, dan sistem mobilitas perkotaan. Tujuannya adalah memastikan teknologi dapat meningkatkan mobilitas tanpa mengabaikan kemampuan dan kebutuhan pengguna.

Dalam masyarakat, penerapan human factors dapat membantu menciptakan sistem transportasi yang lebih aman, nyaman, mudah dipahami, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan pengguna. Misalnya, desain informasi perjalanan yang jelas dapat membantu pengguna mengambil keputusan dengan cepat, sedangkan desain antarmuka kendaraan yang baik dapat mengurangi beban kognitif pengemudi.

Dalam penelitian, mahasiswa dapat mengembangkan topik seperti driver behavior, driver fatigue, human-machine interaction, autonomous vehicle acceptance, trust in automation, cognitive workload, usability evaluation, pedestrian interaction, transportation accessibility, dan human error analysis.

Kompetensi ini relevan untuk pekerjaan seperti Industrial Engineer, Human Factors Engineer, Ergonomics Specialist, Transportation Analyst, Safety Engineer, UX Researcher, Mobility Analyst, Systems Engineer, dan Transportation Operations Analyst.

Tren Faktor Manusia dalam Sistem Transportasi Pintar Saat Ini

Salah satu tren terbesar adalah meningkatnya perhatian terhadap human factors pada kendaraan otonom dan automated driving. Ketika fungsi mengemudi semakin banyak dialihkan kepada sistem otomatis, peran manusia berubah dari pengendali aktif menjadi pengawas atau pengguna yang harus siap melakukan intervensi pada kondisi tertentu. Review terbaru menunjukkan bahwa teknologi kendaraan otonom masih menghadapi berbagai tantangan human factors, khususnya terkait pembagian tugas, pengawasan, intervensi manusia, dan teleoperation.

Tren berikutnya adalah human-centered Human-Machine Interaction. Penelitian terbaru mengenai kendaraan pintar menunjukkan bahwa evaluasi usability semakin memperhatikan berbagai tingkat otomasi, skenario tugas, dan bentuk interaksi antara manusia dengan sistem kendaraan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi transportasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh seberapa mudah dan aman teknologi tersebut digunakan manusia.

Trust, risk perception, dan acceptance juga menjadi topik penting. Pengguna mungkin menolak atau tidak menggunakan kendaraan otonom jika mereka tidak percaya terhadap kemampuan sistem, meskipun teknologi tersebut secara teknis telah berkembang. Kajian bibliometrik mengenai kendaraan otonom menunjukkan bahwa kepercayaan, persepsi risiko, dan niat menggunakan teknologi menjadi tema penelitian penting dalam penerimaan kendaraan otonom.

Perkembangan lain adalah penggunaan AI, computer vision, sensor, wearable devices, dan real-time monitoring untuk memahami kondisi manusia. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi kelelahan, distraksi, perhatian pengemudi, atau perubahan perilaku. Namun, penggunaan teknologi pemantauan manusia juga menimbulkan pertanyaan mengenai privasi, keamanan data, transparansi, dan penggunaan informasi secara bertanggung jawab.

Tren inclusive dan accessible intelligent transportation juga semakin penting. Sistem transportasi pintar perlu mempertimbangkan pengguna lanjut usia, penyandang disabilitas, serta pengguna dengan kemampuan fisik dan kognitif yang beragam. Penelitian mengenai AI-powered accessibility pada kendaraan otonom mengeksplorasi teknologi seperti voice interaction, haptic feedback, augmented reality, virtual reality, dan berbagai bentuk adaptasi antarmuka untuk meningkatkan aksesibilitas.

Selain itu, perkembangan Industry 5.0 dan human-centered automation mendorong sistem transportasi untuk tidak hanya mengejar otomatisasi, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan, kesejahteraan, kenyamanan, dan kemampuan manusia. Dalam konteks ini, teknologi seharusnya dirancang untuk mendukung manusia, bukan sekadar menggantikan manusia.

Kesimpulan

Faktor Manusia dalam Sistem Transportasi Pintar membantu mahasiswa Teknik Industri memahami bahwa teknologi transportasi yang canggih harus tetap dirancang berdasarkan kemampuan, keterbatasan, perilaku, dan kebutuhan manusia. Keberhasilan sistem transportasi pintar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sensor, algoritma, atau kendaraan, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara manusia, kendaraan, infrastruktur, informasi, dan sistem otomatis.

Dengan berkembangnya AI, kendaraan otonom, connected vehicles, intelligent transportation systems, human-machine interaction, wearable technology, computer vision, dan Industry 5.0, bidang ini semakin strategis. Seorang industrial engineer dituntut mampu merancang sistem transportasi yang cerdas sekaligus human-centered, aman, ergonomis, inklusif, mudah digunakan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Mahasiswa Sabi

©Repository Muhammad Surya Putra Fadillah