Praktisi Kampus Andalan

Teknologi dan Inspeksi Las

Teknologi dan Inspeksi Las: Menjamin Kekuatan, Keselamatan, dan Integritas Struktur dalam Teknik Kelautan

Dalam dunia Teknik Kelautan, banyak struktur dan fasilitas yang harus mampu bekerja dalam lingkungan laut yang penuh tantangan. Kapal, platform lepas pantai, jacket structure, subsea structure, tangki, pipa, dermaga, hingga berbagai komponen konstruksi kelautan umumnya tersusun dari berbagai bagian yang harus disambungkan secara kuat dan presisi. Salah satu teknologi penyambungan material yang paling penting dalam industri tersebut adalah pengelasan atau welding.

Pengelasan bukan sekadar proses menyatukan dua material menggunakan panas. Kualitas sambungan las dapat menentukan kekuatan, ketahanan fatigue, ketahanan terhadap korosi, dan keselamatan sebuah struktur kelautan. Kesalahan kecil seperti porositas, retak, lack of fusion, slag inclusion, atau deformasi dapat berkembang menjadi kerusakan yang lebih serius ketika struktur menerima beban gelombang, arus, angin, getaran, maupun beban berulang dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, mata kuliah Teknologi dan Inspeksi Las memberikan pemahaman mengenai bagaimana sambungan las dirancang, dibuat, dikendalikan kualitasnya, dan diperiksa untuk memastikan memenuhi persyaratan teknis. Mata kuliah ini menghubungkan ilmu material, metalurgi, mekanika, manufaktur, inspeksi, keselamatan kerja, dan standar konstruksi dengan kebutuhan industri kelautan.

Apa Itu Teknologi dan Inspeksi Las?

Teknologi dan Inspeksi Las merupakan bidang pembelajaran yang mempelajari prinsip, metode, proses, material, parameter, kualitas, serta pemeriksaan sambungan hasil pengelasan. Teknologi las membahas bagaimana proses penyambungan dilakukan secara tepat, sedangkan inspeksi las berfokus pada bagaimana kualitas hasil sambungan tersebut diverifikasi berdasarkan persyaratan desain, standar, dan spesifikasi teknis.

Dalam Teknik Kelautan, pembelajaran ini sangat penting karena struktur laut umumnya mengalami kombinasi beban yang kompleks dan lingkungan yang agresif. Sambungan las harus mampu mempertahankan integritas struktur selama masa operasinya. Karena itu, proses pengelasan perlu dikendalikan sejak tahap desain, pemilihan material, persiapan sambungan, pelaksanaan pengelasan, pemeriksaan, hingga dokumentasi dan pemeliharaan.

Inspeksi las juga tidak selalu berarti mencari kerusakan yang terlihat dengan mata. Berbagai Non-Destructive Testing (NDT) dapat digunakan untuk mendeteksi cacat yang berada di permukaan maupun di dalam material tanpa harus merusak komponen yang diperiksa.

Fokus yang Dipelajari dalam Teknologi dan Inspeksi Las

Materi mata kuliah ini dapat mencakup berbagai aspek teknologi penyambungan dan pemeriksaan sambungan las, antara lain:

  • Dasar-dasar pengelasan: memahami prinsip fisik dan metalurgi yang terjadi selama proses pengelasan.
  • Jenis proses pengelasan: mempelajari berbagai metode seperti SMAW, GMAW, GTAW, FCAW, SAW, dan proses pengelasan lainnya.
  • Welding procedure: memahami tahapan dan parameter yang harus dikendalikan dalam proses pengelasan.
  • Welding Procedure Specification (WPS): memahami dokumen yang menentukan parameter dan prosedur pengelasan.
  • Welder qualification: memahami persyaratan kompetensi dan kualifikasi juru las.
  • Material dan weldability: mempelajari kemampuan material untuk dilas serta faktor yang memengaruhi kualitas sambungan.
  • Heat Affected Zone (HAZ): memahami perubahan mikrostruktur dan sifat material akibat panas pengelasan.
  • Welding defects: mempelajari berbagai jenis cacat seperti crack, porosity, slag inclusion, lack of fusion, lack of penetration, dan undercut.
  • Welding distortion: memahami deformasi akibat distribusi panas yang tidak merata.
  • Residual stress: mempelajari tegangan sisa yang dapat muncul setelah proses pengelasan.
  • Welding consumables: memahami pemilihan elektroda, filler metal, shielding gas, dan material pendukung.
  • Preheating dan post-weld heat treatment: memahami pengendalian temperatur sebelum dan setelah pengelasan.
  • Visual Testing (VT): mempelajari pemeriksaan visual terhadap kondisi permukaan dan geometri sambungan.
  • Liquid Penetrant Testing (PT): mendeteksi cacat terbuka ke permukaan pada material tertentu.
  • Magnetic Particle Testing (MT): mendeteksi diskontinuitas permukaan dan dekat permukaan pada material feromagnetik.
  • Ultrasonic Testing (UT): menggunakan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi indikasi di dalam material.
  • Radiographic Testing (RT): menggunakan radiasi untuk memeriksa kondisi internal sambungan.
  • Non-Destructive Testing: memahami prinsip, kelebihan, keterbatasan, dan pemilihan metode NDT.
  • Quality control: memahami pengendalian kualitas selama proses fabrikasi struktur.
  • Welding inspection report: memahami dokumentasi hasil pemeriksaan dan penerimaan sambungan.

Peran Teknologi dan Inspeksi Las dalam Teknik Kelautan

Teknologi pengelasan memiliki posisi strategis dalam Teknik Kelautan karena sebagian besar struktur kelautan membutuhkan sambungan permanen dengan kekuatan tinggi. Struktur yang dirancang dengan baik tetap membutuhkan proses fabrikasi yang benar agar kemampuan struktur tersebut dapat diwujudkan di lapangan.

  • Mendukung fabrikasi struktur laut: digunakan dalam pembuatan kapal, platform offshore, jacket, subsea structure, tangki, pipa, dan berbagai fasilitas kelautan.
  • Menjamin integritas struktur: inspeksi memastikan sambungan memenuhi persyaratan kualitas sebelum struktur digunakan.
  • Meningkatkan keselamatan: deteksi cacat lebih awal dapat mengurangi risiko kegagalan struktur.
  • Mendukung desain: karakteristik sambungan las perlu dipertimbangkan dalam analisis struktur dan fatigue.
  • Mendukung maintenance: inspeksi berkala membantu menemukan indikasi kerusakan pada struktur yang telah beroperasi.
  • Mengendalikan kualitas konstruksi: memastikan proses fabrikasi mengikuti prosedur, spesifikasi, dan standar yang ditetapkan.
  • Mengurangi biaya kegagalan: deteksi cacat sejak tahap fabrikasi dapat mencegah perbaikan yang lebih mahal pada tahap operasi.

Mengapa Sambungan Las Sangat Penting dalam Struktur Kelautan?

Struktur kelautan menghadapi kondisi pembebanan yang berbeda dengan banyak struktur darat. Gelombang dan arus dapat menghasilkan beban yang berubah-ubah secara terus-menerus. Angin, getaran mesin, perubahan temperatur, serta interaksi antara struktur dan fluida juga dapat menghasilkan siklus pembebanan yang kompleks.

Dalam kondisi tersebut, area sambungan menjadi salah satu bagian yang harus mendapat perhatian khusus. Geometri weld toe, weld root, perubahan mikrostruktur, cacat las, tegangan sisa, dan konsentrasi tegangan dapat memengaruhi perilaku fatigue sambungan.

Hal tersebut menjadikan inspeksi las bukan sekadar aktivitas pemeriksaan kualitas produksi, tetapi bagian dari structural integrity management. Hasil inspeksi dapat digunakan untuk menentukan apakah sebuah sambungan aman digunakan, membutuhkan perbaikan, atau memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Jenis Proses Pengelasan dalam Industri Kelautan

Industri kelautan menggunakan berbagai proses pengelasan sesuai jenis material, ketebalan, posisi pengelasan, kebutuhan produktivitas, dan kualitas sambungan yang diperlukan.

  • Shielded Metal Arc Welding (SMAW): menggunakan elektroda terbungkus dan banyak digunakan untuk pekerjaan fabrikasi maupun perbaikan.
  • Gas Metal Arc Welding (GMAW): menggunakan kawat elektroda kontinu dan gas pelindung untuk meningkatkan produktivitas.
  • Gas Tungsten Arc Welding (GTAW): memberikan kontrol yang baik dan kualitas sambungan tinggi untuk aplikasi tertentu.
  • Flux-Cored Arc Welding (FCAW): menggunakan kawat berinti fluks dan dapat memberikan produktivitas tinggi pada fabrikasi.
  • Submerged Arc Welding (SAW): cocok untuk pengelasan dengan produktivitas tinggi pada kondisi dan konfigurasi tertentu.
  • Robotic Welding: menggunakan sistem otomatis atau robot untuk meningkatkan konsistensi dan produktivitas.
  • Laser Welding: memanfaatkan energi laser untuk menghasilkan sambungan dengan karakteristik tertentu dan mulai mendapat perhatian dalam manufaktur modern.
  • Friction Stir Welding: merupakan proses solid-state welding yang menarik untuk material dan aplikasi tertentu karena tidak menggunakan peleburan konvensional.

Welding Defects dan Penyebabnya

Salah satu kompetensi penting dalam mata kuliah ini adalah kemampuan mengenali dan memahami penyebab berbagai cacat pengelasan. Cacat dapat berasal dari kesalahan prosedur, parameter, material, persiapan sambungan, teknik operator, maupun kondisi lingkungan.

  • Crack: retakan pada sambungan yang dapat menjadi titik awal kegagalan.
  • Porosity: rongga akibat gas yang terperangkap dalam logam las.
  • Slag inclusion: terperangkapnya material non-logam dalam logam las.
  • Lack of fusion: tidak terjadinya peleburan yang memadai antara material las dan material dasar.
  • Lack of penetration: penetrasi sambungan tidak mencapai kedalaman yang dipersyaratkan.
  • Undercut: terbentuknya alur pada material dasar di sekitar toe las.
  • Overlap: material las melebar di atas permukaan material dasar tanpa fusi yang sesuai.
  • Distortion: perubahan bentuk akibat distribusi panas yang tidak merata.
  • Burn-through: material mengalami penetrasi berlebihan hingga menyebabkan lubang atau kehilangan material.

Pemahaman mengenai cacat las penting karena setiap jenis cacat memiliki tingkat risiko dan metode pemeriksaan yang berbeda. Engineer harus mampu menentukan apakah sebuah indikasi dapat diterima berdasarkan standar dan spesifikasi yang berlaku atau membutuhkan tindakan perbaikan.

Non-Destructive Testing dalam Inspeksi Las

Non-Destructive Testing (NDT) merupakan bagian penting dari inspeksi las karena memungkinkan pemeriksaan kondisi material dan sambungan tanpa harus menghancurkan komponen yang diperiksa. Metode NDT dipilih berdasarkan jenis material, lokasi pemeriksaan, jenis cacat yang dicari, ketebalan material, dan tingkat sensitivitas yang diperlukan.

  • Visual Testing (VT): pemeriksaan visual terhadap bentuk, ukuran, permukaan, dan kondisi sambungan.
  • Liquid Penetrant Testing (PT): digunakan untuk mendeteksi cacat terbuka ke permukaan.
  • Magnetic Particle Testing (MT): digunakan untuk mendeteksi indikasi permukaan dan dekat permukaan pada material feromagnetik.
  • Ultrasonic Testing (UT): menggunakan gelombang ultrasonik untuk mengidentifikasi indikasi internal.
  • Radiographic Testing (RT): menghasilkan gambaran internal sambungan menggunakan radiasi.
  • Phased Array Ultrasonic Testing (PAUT): menggunakan susunan elemen ultrasonik untuk menghasilkan pemeriksaan dan pemetaan yang lebih terarah.
  • Time of Flight Diffraction (TOFD): memanfaatkan gelombang difraksi untuk mendeteksi dan mengukur karakteristik cacat tertentu.

Hubungan Inspeksi Las dengan Structural Integrity

Dalam struktur kelautan, kualitas sambungan las memiliki hubungan langsung dengan structural integrity. Struktur harus mampu mempertahankan kemampuan membawa beban selama masa desainnya. Karena itu, inspeksi perlu dipandang sebagai bagian dari sistem pengelolaan integritas yang mencakup desain, fabrikasi, commissioning, operasi, inspeksi, maintenance, dan perbaikan.

Data hasil inspeksi dapat digunakan untuk menentukan kondisi aktual struktur. Jika ditemukan indikasi atau kerusakan, engineer dapat melakukan evaluasi lebih lanjut menggunakan analisis tegangan, fracture mechanics, fatigue assessment, atau metode fitness-for-service sesuai kebutuhan.

Pendekatan tersebut membuat teknologi dan inspeksi las tidak berdiri sendiri. Hasil pemeriksaan harus dapat diterjemahkan menjadi informasi teknik yang membantu pengambilan keputusan mengenai keselamatan dan kelayakan operasi struktur.

Teknologi dan Inspeksi Las dalam Konstruksi Offshore

Industri offshore engineering merupakan salah satu bidang yang sangat membutuhkan teknologi pengelasan dan inspeksi berkualitas tinggi. Struktur seperti jacket platform, topside, riser support, subsea structure, pipeline, dan berbagai fasilitas offshore harus memiliki sambungan yang mampu bekerja dalam lingkungan dengan kombinasi beban dan kondisi korosif.

Proses fabrikasi biasanya melibatkan banyak tahap pengelasan. Setiap tahap memerlukan prosedur, pemeriksaan, dokumentasi, dan pengendalian kualitas yang sesuai. Inspeksi juga perlu dilakukan secara sistematis untuk memastikan bahwa cacat yang dapat memengaruhi integritas struktur dapat ditemukan sebelum struktur digunakan.

Kegunaan dalam Masyarakat, Riset, dan Dunia Kerja

Teknologi dan inspeksi las memiliki manfaat yang sangat luas karena kualitas sambungan menentukan keamanan berbagai struktur dan fasilitas yang digunakan masyarakat maupun industri.

  • Industri maritim: mendukung pembangunan dan pemeliharaan kapal, tongkang, kapal kerja, dan fasilitas maritim lainnya.
  • Industri offshore: digunakan untuk fabrikasi dan inspeksi platform, subsea structure, pipeline, dan berbagai fasilitas lepas pantai.
  • Pelabuhan: mendukung pembangunan dan maintenance struktur baja seperti dermaga, crane, dan fasilitas pendukung.
  • Infrastruktur: teknologi las digunakan dalam berbagai konstruksi baja dan fasilitas teknik.
  • Keselamatan masyarakat: inspeksi membantu mengurangi risiko kegagalan struktur akibat cacat sambungan.
  • Riset: membuka peluang penelitian mengenai material, fatigue, fracture, NDT, robotic welding, dan structural health monitoring.
  • Quality assurance: membantu industri memenuhi persyaratan kualitas dan dokumentasi konstruksi.
  • Dunia kerja: kompetensi ini relevan bagi Welding Engineer, Welding Inspector, NDT Inspector, QA/QC Engineer, Marine Engineer, Structural Engineer, Fabrication Engineer, Offshore Engineer, Materials Engineer, dan Inspection Engineer.

Peran Teknologi dan Inspeksi Las dalam Riset

Perkembangan teknologi material dan manufaktur membuka berbagai peluang penelitian dalam bidang pengelasan dan inspeksi. Penelitian tidak hanya berfokus pada peningkatan kekuatan sambungan, tetapi juga bagaimana proses dapat dibuat lebih efisien, otomatis, ramah lingkungan, dan mudah diperiksa.

  • Welding metallurgy: mempelajari hubungan antara proses pengelasan, mikrostruktur, dan sifat mekanik.
  • Fatigue research: menganalisis perilaku sambungan terhadap pembebanan berulang.
  • Fracture mechanics: mempelajari perkembangan retak dan mekanisme kegagalan.
  • Advanced NDT: mengembangkan metode inspeksi dengan sensitivitas dan kemampuan karakterisasi yang lebih tinggi.
  • Robotic welding: mengembangkan otomatisasi proses pengelasan untuk meningkatkan konsistensi dan produktivitas.
  • AI-based defect detection: menggunakan machine learning untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan cacat dari data inspeksi.
  • Digital inspection: mengembangkan sistem dokumentasi dan analisis hasil inspeksi secara digital.
  • Structural health monitoring: mengintegrasikan inspeksi dengan sensor untuk memantau kondisi struktur selama masa operasi.
  • Additive manufacturing: meneliti pemanfaatan proses manufaktur aditif berbasis logam untuk komponen tertentu.
  • Advanced materials: mengembangkan material dan consumable dengan performa lebih baik untuk lingkungan ekstrem.

Tren Terkini Teknologi dan Inspeksi Las

Perkembangan teknologi pengelasan dan inspeksi saat ini bergerak menuju proses yang semakin otomatis, digital, berbasis data, presisi, dan terintegrasi. Industri mulai memanfaatkan robot, sensor, computer vision, artificial intelligence, advanced NDT, serta digital documentation untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas.

  • Robotic Welding: robot digunakan untuk meningkatkan konsistensi lintasan pengelasan, produktivitas, dan keselamatan kerja.
  • Welding Automation: otomatisasi parameter dan proses semakin berkembang untuk mengurangi variasi hasil pengelasan.
  • AI-Based Weld Inspection: artificial intelligence dan computer vision digunakan untuk membantu mendeteksi serta mengklasifikasikan indikasi pada hasil inspeksi.
  • Advanced Ultrasonic Testing: PAUT dan TOFD semakin penting untuk pemeriksaan sambungan dengan kebutuhan karakterisasi cacat yang lebih detail.
  • Digital Welding: parameter pengelasan dapat direkam dan dianalisis secara digital untuk meningkatkan traceability.
  • Digital Twin: data fabrikasi, inspeksi, dan kondisi struktur dapat diintegrasikan dengan model digital untuk mendukung pengelolaan integritas.
  • Predictive Maintenance: data inspeksi dan sensor digunakan untuk memprediksi potensi kerusakan sebelum berkembang menjadi kegagalan.
  • Drone dan Robotic Inspection: perangkat otomatis dapat membantu melakukan inspeksi pada area yang sulit atau berisiko bagi manusia.
  • Underwater Inspection: ROV dan sistem robotik semakin digunakan untuk inspeksi struktur dan sambungan bawah air.
  • Advanced Materials: penggunaan material dan consumable yang memiliki performa lebih baik terhadap fatigue, korosi, dan lingkungan ekstrem terus dikembangkan.
  • Friction Stir Welding: teknologi solid-state welding terus dikembangkan untuk aplikasi material dan manufaktur tertentu.
  • Laser Welding: proses pengelasan berbasis laser menawarkan peluang untuk aplikasi yang membutuhkan presisi dan produktivitas tinggi.
  • Digital Traceability: rekam jejak material, welder, parameter, hasil inspeksi, dan perbaikan semakin diarahkan ke sistem digital yang terintegrasi.

Artificial Intelligence untuk Inspeksi Las

Salah satu perkembangan menarik dalam inspeksi modern adalah penggunaan Artificial Intelligence (AI). Inspeksi menghasilkan berbagai jenis data seperti gambar visual, citra radiografi, data ultrasonik, dan hasil pengukuran lainnya. Data tersebut dapat digunakan untuk melatih model machine learning dalam membantu mendeteksi pola yang berkaitan dengan cacat las.

Computer vision dapat digunakan untuk menganalisis gambar permukaan sambungan dan membantu mengidentifikasi indikasi seperti undercut, porosity, atau perubahan geometri. Sementara itu, machine learning dapat digunakan untuk membantu klasifikasi data NDT yang lebih kompleks.

AI tidak menggantikan kebutuhan akan inspector dan engineer yang kompeten. Sebaliknya, AI dapat berfungsi sebagai decision-support tool yang membantu mempercepat analisis, meningkatkan konsistensi, dan memprioritaskan area yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Digitalisasi Welding dan Quality Control

Industri modern semakin mengarah pada digital welding, yaitu proses pengelasan yang parameter, data material, identitas welder, hasil inspeksi, dan dokumentasinya dapat direkam dalam sistem digital. Pendekatan ini meningkatkan traceability dan mempermudah proses audit serta evaluasi kualitas.

Dalam proyek kelautan yang memiliki ribuan sambungan las, pengelolaan data secara digital dapat memberikan keuntungan besar. Engineer dapat mengetahui lokasi sambungan, prosedur yang digunakan, hasil inspeksi, status perbaikan, serta riwayat pemeriksaan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dokumen manual.

Contoh Topik Proyek dan Penelitian

Mata kuliah Teknologi dan Inspeksi Las dapat dikembangkan menjadi berbagai proyek akademik maupun penelitian, antara lain:

  • Analisis pengaruh parameter pengelasan terhadap kekuatan sambungan baja.
  • Analisis pengaruh heat input terhadap karakteristik Heat Affected Zone.
  • Perbandingan metode SMAW, GMAW, FCAW, dan GTAW untuk aplikasi tertentu.
  • Analisis fatigue pada sambungan las struktur offshore.
  • Deteksi cacat las menggunakan Ultrasonic Testing.
  • Perbandingan efektivitas UT, PAUT, TOFD, dan RT untuk pemeriksaan sambungan tertentu.
  • Pengembangan computer vision untuk deteksi cacat permukaan las.
  • Klasifikasi cacat las menggunakan machine learning.
  • Analisis residual stress pada sambungan hasil pengelasan.
  • Analisis deformasi struktur akibat proses pengelasan.
  • Pengembangan sistem robotic welding untuk fabrikasi struktur kelautan.
  • Pengembangan Digital Twin untuk pengelolaan data sambungan las.
  • Predictive maintenance berbasis data inspeksi struktur offshore.
  • Analisis ketahanan korosi sambungan las pada lingkungan laut.
  • Pengembangan sistem inspeksi bawah air berbasis ROV.

Kompetensi yang Dibangun melalui Mata Kuliah Ini

Melalui mata kuliah Teknologi dan Inspeksi Las, mahasiswa Teknik Kelautan dapat membangun kemampuan yang dibutuhkan dalam proses fabrikasi, quality control, dan pengelolaan integritas struktur.

  • Welding process knowledge: memahami prinsip dan karakteristik berbagai proses pengelasan.
  • Material knowledge: memahami hubungan antara material, weldability, dan kualitas sambungan.
  • Welding procedure: memahami pengendalian parameter dan prosedur pengelasan.
  • Defect identification: mampu mengenali berbagai jenis cacat dan penyebabnya.
  • NDT knowledge: memahami prinsip dan pemilihan metode pemeriksaan non-destruktif.
  • Quality control: memahami proses pengendalian mutu dalam fabrikasi struktur.
  • Inspection planning: mampu memahami penyusunan rencana inspeksi berdasarkan kebutuhan teknis.
  • Structural integrity: memahami hubungan kualitas sambungan dengan keselamatan dan umur layanan struktur.
  • Digital inspection: mengenal penggunaan teknologi digital untuk dokumentasi dan analisis inspeksi.
  • Safety awareness: memahami pentingnya keselamatan dalam proses welding dan inspection.

Penutup: Dari Sambungan Las Menuju Integritas Struktur Kelautan

Teknologi dan Inspeksi Las merupakan mata kuliah yang memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan mahasiswa Teknik Kelautan untuk memahami bagaimana struktur laut dibuat, diperiksa, dan dipastikan keamanannya. Pengelasan menjadi salah satu proses utama dalam fabrikasi struktur, sedangkan inspeksi memastikan bahwa hasil proses tersebut memenuhi persyaratan kualitas dan mampu mendukung integritas struktur.

Penguasaan konsep welding process, WPS, weldability, HAZ, welding defects, residual stress, fatigue, Visual Testing, PT, MT, UT, RT, PAUT, TOFD, quality control, dan structural integrity memberikan dasar yang kuat bagi mahasiswa untuk berkarier dalam industri maritim, offshore, konstruksi, fabrikasi, inspeksi, dan maintenance.

Perkembangan robotic welding, artificial intelligence, computer vision, advanced NDT, Digital Twin, predictive maintenance, ROV inspection, digital traceability, advanced materials, laser welding, dan automated inspection menunjukkan bahwa bidang pengelasan dan inspeksi sedang bergerak menuju era manufaktur serta inspeksi yang semakin cerdas dan berbasis data.

Pada akhirnya, kualitas sebuah struktur kelautan tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik struktur tersebut dirancang, tetapi juga oleh seberapa baik struktur tersebut difabrikasi, dilas, diperiksa, dipelihara, dan dipantau selama masa operasinya. Dengan memahami Teknologi dan Inspeksi Las, mahasiswa Teknik Kelautan dapat berperan dalam menghasilkan struktur maritim dan offshore yang lebih kuat, aman, andal, ekonomis, serta memiliki umur layanan yang panjang.

Mahasiswa Sabi

©Repository Muhammad Surya Putra Fadillah